Tanah Karo // metroinvestigasinews.com
Kek mana ini pak bupati Karo.Destinasi wisata di kabupaten Karo Sumatera Utara. Kembali mendapat sorotan dan menimbulkan kekecewaan dari pewisata pasca mendapati prasarana di ekowisata Lau Kawar Kumuh dan infrastruktur rusak.
Kekecewaan itu pun di sampaikan oleh salah seorang pewisata sebut saja Matius Gea asal kota siantar, Sumatera Utara. Saat mengunjungi lokasi Danau Lau Kawar Minggu (1/2/2026).
Pemuda berdarah Nias ini pun Menyampaikan kekecewaan nya terhadap fasilitas dan retribusi di lokasi wisata danau Lau Kawar yang tidak sesuai dengan retribusi yang dikutip oleh pemkab Karo dengan fasilitas dan kondisi wisata yang ada di Lau Kawar.
Dimana Matius menceritakan awal kekecewaannya kepada awak media sejak ia masuk ke lokasi wisata danau Lau Kawar bersama rombongan nya pada (31/1/2026) sore.
Pada saat ia memasuki Lokasi wisata danau Lau kawar bersama rombongan nya pada sabtu (31/1) , ia pun dikenakan biaya retribusi sebesar Rp. 10.000/orang dan biaya parkir sebesar Rp. 5000/ per kendaraan.
Menurut Matius, ia pun tidak mempermasalahkan hal itu, jika retibusi yang dikutip itu digunakan untuk memperbaiki lokasi wisata Danau Lau Kawar dan bermanfaat bagi pemerintah dan masyarakat sekitar, tentu menurutnya hal itu sangat baik dan sudah tepat.
Akan tetapi, kekecewaan nya mulai memuncak ketika ia bersama rombongan mulai memasuki Lokasi wisata, dimana, saat sampai di lokasi (Kemping) di Assri Taman Lau Kawar simalem, ia pun harus dikenakan lagi biaya parkir sebesar Rp.20.000/kendaraan Roda 4.
Tentu hal ini membuat dirinya sebagai seorang pewisata merasa ditipu dan dirugikan oleh oknum yang mengutip retribusi mengatasnamakan pemkab Karo itu.
Karena menurut Matius, seharusnya ia tidak lagi harus membayar retribusi parkir, karena retribusi itu sudah di kutip terlebih dahulu di pengutipan retribusi sebesar Rp.10.000/Orang dan kendaraan Rp.5000/ Orang, namun faktanya dilokasi wisata kendaraan nya bersama rombongan pun tetap di kutip kembali.
“Dari sisi pada saat masuk, kita harus membayar retribusi, untuk per orang dikenakan sekitar Rp10.000/Orang untuk kendaraan Rp.5000/ Kendaraan,Nah ternyata di lokasi wisata juga kita harus bayar parkir lagi,tentu inikan tidak sesuai dengan aturan yang dikeluarkan oleh Pemkab,”Ucap Matius.
“Selain itu, kita melihat dari segi fasilitas atau infrastruktur jalan di sini cukup hancur, Padahal dari sisi pemandangan, dari sisi wisata di Karo ini cukup bagus.Lau Kawarnya cukup cantik,sama percis seperti luar negeri. Bisa dikatakan seperti Swiss lah salah satunya,”Katanya.
Masih lanjut kata Matius, “Perhatian kita, kalau kita melihat di lapangan itu, perhatian dari masyarakat itu, dari pemerintah itu kurang.Sehingga ini memungkinkan sebagai masalah untuk mengembangkan ekonomi di wilayah Karo ini,”Ungkap nya.
Tambah tambah matius.Kita berharap juga, kita sebagai warga yang datang dari luar, kita datang ke sini untuk membantu mengembangkan ekonomi masyarakat, harusnya juga pihak pemerintah yang telah menarik retribusi ke kita harus memberikan fasilitas yang baik dan aman bagi kita selaku pewisata.
“Tempat wisatanya cukup bagus, cantik, masyarakatnya cukup ramah, cuman saja dari sisi kebersihannya, Fasilitas bangunan milik pemkab nya juga sudah mirip rumah “Hantu”, ditambah lagi Seperti kayak sampah-sampah plastik bertebaran di mana-mana.
“Tempat-tempat pembuangan sampah itu saya perhatikan tidak ada petugas khusus dari pemerintah atau dari pengelola itu sendiri yang melakukan pembersihan,”Bebernya.
Pemuda kelahiran Nias yang juga merupakan Praktisi hukum muda di sumut itu juga mempertanyakan terkait status lokasi wisata Lau Kawar yang tepat berada dibawah kaki gunung sinabung.
“Ya, disini kita juga mempertanyakan lokasi wisata Lau kawar yang berada dibawah kaki gunung sinabung ini, apakah ini tidak berbahaya, sementara sinabung ini merupakan status gunung aktif dan masuk zona merah, tapi kok ada dan bisa dibuka lokasi wisata,”Terang nya.
Sementara itu, Bupati Karo Brigjen Pol (Purn) Dr. dr Antonius Ginting ketika dikonfirmasi wartawan terkait hal retribusi pariwisata laukawar itupun belum memberikan keterangan resminya.(Sigit/Tim)






