Medan // metroinvestigasinews.com
Terungkap, pelaku pembunuhan terhadap Kwek Tjui, 67 tahun, Alfian nekat menghabisi nyawa korban karena kesal. Pasalnya, korban tidak membawa sejumlah uang yang telah dijanjikan untuk digandakan.
Wakapolrestabes Medan, AKBP Rudy Silaen menerangkan, sebelumnya korban berjanji akan membawa uang tunai Rp100 juta untuk digandakan. Namun saat waktu yang ditentukan tiba, korban hanya membawa uang Rp 1,1 juta.
“Pelaku kesal karena janjinya korban bawa uang Rp 100 juta. Nyatanya korban bawa Rp 1,1 juta,” ucapnya, Senin (25/8/2025).
Saat korban bersama anaknya Eriana tiba di rumah pelaku, pelaku mengajak korban keluar dengan dalih untuk melakukan ritual. Namun dalam perjalanan, korban dibunuh dengan cara dibacok menggunakan sebilah parang.
“Korban diajak keluar, untuk mandi secara ritual. Terus pelaku membeli kelapa dan meminum airnya. Lalu korban disuruh minum air kelapa juga, saat minum itu pelaku membacok bagian belakang kepala korban hingga tewas,” tuturnya.
Anak Korban Atlet Muaithai dan Bertarung Dengan Pelaku
Usai memastikan korban tewas, pelaku kembali ke rumah dan menemui Eriana. Di sana, Eriana pun diminta pelaku untuk menjalankan ritual dengan duduk membelakangi pelaku. Saat itu, pelaku membekap Eriana dan menganiayanya.
“Disitu pelaku mencoba memperkosa anak korban. Karena anak korban melawan, keduanya terlibat perkelahian,” lanjutnya.
Karena tak mau dinodai, Eriana melakukan perlawanan. Perempuan berusia 39 tahun itu bertarung dengan pelaku hingga pelaku tersungkur. Setelah mendapat kesempatan, perempuan yang diketahui atlet Muaithai itu kabur dari rumah tersebut dan meminta pertolongan warga.
“Anak korban menendang kemaluan pelaku hingga pelaku pingsan. Saat itu anak korban kabur dan meminta pertolongan warga,” ujarnya.Pelaku pembunuhan terhadap Kwek Tjui, Alfian mengaku tidak memiliki kemampuan menggandakan uang. Hal itu dilakukannya sebagai modus agar korban mau membawa sejumlah uang.
Dikatakannya, ia membutuhkan uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Ia pun membujuk rayu korban agar mau menggandakan uang kepadanya.
“Sebenarnya nggak bisa (gandakan uang). Itu cuma modus aja biar dia bawa uang. Saya lagi butuh uang untuk kerja sehari-hari,” ucapnya.
Ia pun mengaku kalap karena korban tidak membawa uang sesuai kesepakatan.
“Janjinya Rp100 juta, terus turun jadi Rp 20 juta, tiba-tiba dia bawa uang Rp1,1 juta,” ujarnya.(Sigit)












